
Adalah alkisah yang mengharukan ketika itu saya masih SD mempunyai seorang abang yang bernama mursalim (semoga Allah melapangkan kuburnya)masih terngiang dalam benak saya ketika ia mengatakan saat kami akan meninggalkan rumah yang sangat luas dipasar lima gang pembangunan atas kepindahan ke rumah di mahkamah yang sederhana. Tentunya abang dan saya sangat gembira dikarenakan rumah yang akan kami tempati tidak sebagus di p. bulan namun tidak jauh dari Masjid terbesar dan kebanggaan Ikon Kota Medan yaitu Masjid Raya Almanshun. Saat itu ia mengatakan ,nanti disana kita terus solat 5 waktu ya, kan dekat Masjidnya dan jum'atan. Sembilan tahun kemudian setelah itu Allah memanggilnya, ia keserempet dalam tabrakan di jalan Binjai Medan, ketika itu saya sudah kuliyah di jogja dan tak bisa pulang melihatnya terakhir kali.Ia dimakamkan di TPU Sei Mati, semoga Allah menjadikan kuburnya taman-taman surga.
Kenangan iteu sangat membekas sehingga Masjid Al Manshun bukanlah masjid yang asing bagi saya ketika itu.
Bahkan menaikan bendera ke menara masjid setinggi gedung lantai 5 adalah rutinitas saya seminggu sekali bersama pengurus masjid yang membolehkan hanya tiga orang saja menaiki bundaran tangga dari kayu antik, hingga sampai di atas melihat membentang luas kota medan, menatap dekatnya Bandara Polonia adalah pemandangan yang justru terniat dengan sebuah keyakinan. Keyakinan itu adalah Allah akan hantarkan saya terbang jauh ke Jakarta itulah do'a dan sungguh Allah maha mendengar, Allah mengabulkan do'a saya ketika diatas menara masjid Raya Al Manshun.Ya Saat itu abang tertua datang kemedan dan mengajak liburan kami berdua, dengan Almarhum abang Mursalim kami berangkat terbang dengan pesawat capung Semeck Pertamina kala itu. Sebuah kenangan yang teramat manis tak terlupakan dan hingga daku meneteskan air mata betapa maha besar engkau Ya Allah,sesak dada mengenangnya lega akhirnya sebuah kisah yang nyata pantas jadi sekuel layar lebar.
Demikianlah bergulirnya waktu perubahan Masjid Raya tidaklah signifikan yang terlihat dominasi pertambahan waktu bertambahlah batu nisan disekitarnya yang semakin sesak, dulu di bagian pintu selatan begitu lenggang kini semakin menyepit , dikarenakan bertambahnya makam. Apa daya sebuah fakta yang nyata bagian pintu selatan jarang dilewati. jika perlu dibuka pagar tembok pintu masuk namun itu tak mungkin ada makam disampingnya.
Begitu juga dengan kolam deli dulu tempat nongkrong anak muda mudi, rujak kolam raya yang terkenal, kini adanya Mall Yuki simpang raya bertambahlah meriah, namun sangat sedikit penduduk sekitar masjid raya solat di masjid tersebut, paling saat jumatan. Para pengunjung yang datang sebagian besar wisatawan manca negara dan lokal berseliwuran ada yang sekedar kagum dan takjub dan Solat di Masjid kebanggaan Masyarakat kota medan. Sebenarnya disekitar Masjid Raya juga telah ada masjid-masjid seperti masjid tawalib masjid jl laksana, masjid di rumah sumbul masjid di langgar kel. masjid, dan masjid Jami sungai mati. sehingga itulah yang membuat jamaah masjid raya tidak membludak, hanya saat bulan Ramadhan.
Ketika keberadaan Ramadhan Fair telah 10 tahun yang lau,bagaimana perebutan tempat terlihat ganjil bagi warga sekitar saat masih puasa beradu argumen, saling membentak adalah hal biasa. penduduk sekitar hanya menonton apalah daya tempatnya sangat mahal dulu sekitar sejuta sekarang udah tembus 2 jutaan sampai lima juta tampaknya hanya parkiran saja yang melibatkan PSnya.
Ketika keberadaan Ramadhan Fair telah 10 tahun yang lau,bagaimana perebutan tempat terlihat ganjil bagi warga sekitar saat masih puasa beradu argumen, saling membentak adalah hal biasa. penduduk sekitar hanya menonton apalah daya tempatnya sangat mahal dulu sekitar sejuta sekarang udah tembus 2 jutaan sampai lima juta tampaknya hanya parkiran saja yang melibatkan PSnya.
Abdillah-lah yang menggelegarkan hingga menggelontorkan milyaran rupiah. Hajatan ini sesungguhnya adalah gawean Pemko even tahunan yang sarat kepentingan bisnis ansih bukan sarat dengan pemaknaan hakiki dari ramadhon itu sendiri. Semestinya kita tengoklah betapa para kiyai- kiyai para hafiz-hafiz dan yang dirindukan tak pernah di undang, justru muskik malahi mewakili gepita sorak ramadhan, peran kemenag justru tak terlibatkan sebagaimana masih ingat dalam ingatan diawal ketika itu tahun pertama hadirnya ramadhan fair,saya diajak seorang teman bernama Al ia bekerja di kemenag medan untuk menyaksikan pembukaan Ramadhan Fair, ya tentu saja saya tak melewatkan karena acara tersebut dekat dengan rumah. Apa kamu mewakili kemenag tanyaku, nggak katanya justru aku dekat dengan orang Pemkot Medan, kalau tidak manalah sanggup kita duduk nyantap makanan yang serba mahal. Mewah adalah kata kuncinya perhelatan akbar bertajuk wisata kuliner dan UMKM bernuansa Islam kabarnya Sekarang Pemko menggelontorkan 5.5 M yang anggaran tidak sedikit tentunya. Meminjam istilah Mujahiddin dalam opininya di harian waspada sangatlah pas Ramadhan Fair bagai kapitalisme Berkerudung.Mengembalikan modal dan mengakumulasi keuntungan membuat sistim kapitalisme yang tak terhindarkan dominasinya.
Coba kita mundur 6 tahun lalu ketika Menteri Agama, H. Muhammad Maftuh Basyuni, SH membuka kegiatan Ramadhan Fair ke-IV 2007, Ahad di panggung bawah kolam Taman Sri Deli, Medan. Menag hadir bersama Menteri Syofyan Djalil. mengatakan " Saya berharap kegiatan Ramadhan Fair tidak hanya sekedar trend yang berlalu begitu saja tanpa bekas. Event ini dapat dimanfaatkan sebagai wadah pengembangan Islam," tuturnya. lantas bagaimana kemudian Dijelaskan Eldin, sebagai even budaya bernuansa religius, Ramadhan Fair telah menjadi salah satu ikon pariwisata religi yang paling dinantikan oleh seluruh warga Kota Medan, termasuk para wisatawan. Mengingat tingginya antusiasme yang luar biasa dari masyarakat sekaligus memiliki dampak besar secara ekonomi, sosial budaya serta keagamaan, maka Pemko Medan memutuskan Ramadhan Fair tahun ini dilaksanakan di tiga lokasi yaitu Taman Sri Deli, Lapangan Cadika Pramuka dan Lapangan Martubung.
Untuk menjadikan Ramadhan Fair lebih baik dan meriah lagi, Eldin ingin even ini ke depannya dapat digelar secara nasional dengan mengundang peserta dari luar Kota Medan. Bila perlu mendatangkan peserta dari luar negeri. Dengan demikian Ramadhan Fair dapat menjadi wahana promosi yang lebih luas, terutama bagi produk UMKM dan kuliner serta menjadi daya tarik wistawan untuk berkunjung ke Kota Medan.
Jelas Eldin Mengusung konsep yang dikatakan Mujahidin secara gambalang dan trasparan dan saya melihat ini sebuah gagasan yang patut dikritisi dikaji aspek yang mengedepankan kemuliaan Ramadhan itu secara kaffah oleh seluruh masyarakat Sumut.


No comments:
Post a Comment